Browsing all articles in Motivation
Mar
29

Rahasia Sukses Soichiro Honda

Author admin    Category Motivation     Tags

Soichiro Honda dilahirkan pada tahun 1906 di sebuah desa kecil di Jepang. Pada usia sangat muda pun ia sudah terpesona oleh motor. Sebenarnya jaranglah panggilan seseorang sudah terlihat pada usia begitu muda. Honda menyatakan bahwa pada usia dua atau tiga tahun, ia telah merasa sangat terkesan oleh pemandangan, atau lebih tepat oleh bunyi, sebuah mesin penggilingan tidak jauh dari rumahnya.

Inilah musik pertamaku. Dari serambi rumah kayu kami, saya dapat melihat kepulan asap biru samar-samar yang keluar dari tempat itu. Pada suatu hari saya minta kakek mengantarku ke sana. Hal itu menjadi kebiasaan…saya menyukai bau bahan bakar yang memenuhi udara, suara-suara letusan seperti petasan, asap yang membubung, dan saya dapat melewatkan waktu berjam-jam dengan berjongkok mengawasi mesin itu sementara kakek dengan tidak sabar memanggilku untuk cepat bangun dan menemani dia berjalan-jalan.

Honda mewarisi kesenangannya akan mesin dari ayahnya. Sementara keluarga-keluarga lain di desa khusus mencurahkan perhatian mereka pada pertanian. Ayah Honda tertarik pada teknologi baru yang sedang muncul pada pergantian abad. Ia mempunyai bengkel tempat ia mereparasi mesin-mesin pertanian dan kelak membuka reparasi sepeda. Ia boleh dikata melicinkan jalan bagi anak laki-lakinya dengan membawa dia masuk dunia permesinan pada usia sangat muda. Karena kegiatan semacam ini, dalam waktu singkat Honda dipandang sebagai orang luar oleh orang-orang sedesanya yang mencintai ketenangan dan mereka meramalkan bahwa keluarga Honda akan segera bangkrut. Soichiro Honda sendiri sudah sering mendengar ramalan kelam seperti itu. Tetapi setiap kali ia memperlihatkan bahwa suara-suara pesimis ini tidak akan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di sekolah, Honda bukanlah siswa yang cemerlang. Berkat siasat yang licik ia selalu mendapatkan tempat duduk yang tak mudah dilihat oleh gurunya. Di tempat itu ia dapat melamun sesukanya dan mereka-reka aneka penemuan jenius

“ Nilaiku jelek di sekolah. Saya tidak bersedih karenanya. Duniaku berputar di tempat lain, di sekitar mesin, motor, dan sepeda….”.

bahwa ia tidak selalu menyukai sekolah mungkin juga disebabkan fisiknya yang lemah dan tidak tampan. Kompleks rendah diri yang timbul karenanya menyebabkan adanya keinginan keras untuk menonjolkan diri melalui cara-cara yang sama sekali berbeda. Riwayat hidup Honda merupakan contoh besarnya pengaruh rasa frustasi.

Ketika masih bocah, Honda sangat menderita karena rendah dirinya. Ia selalu kalah dalam pertandingan olah raga atau perlombaan apapun di desanya. Di sekolah, ia biasanya berhasil menghindari penampilan diri dengan alasan sakit atau dalih apa saja. Cara satu-satunya untuk mengimbangi kekurangannya adalah menggunakan mesin untuk melengkapi apa yang kurang pada tubuhnya. Dari segi inilah ia menuntut balas. Dalam pengakuannya tentang soal ini ia berkata terus terang :

“Saya memasuki kegiatan perlombaan mobil dan sepeda motor karena saya dapat menang dalam bidang ini dan saya senang sekali menang. Dengan tubuhku yang lemah dan tidak berkembang dengan baik, saya dapat menyamai yang lain-lain berkat penggunaan bakat lain, dan saya jatuh cinta pada mesin, yang membantu tubuh saya menang dan membuat saya menjadi juara.”

Pada suatu hari, Honda ingin belajar berenang. Di sekolah, kebanyakan anak yang lebih tua dariku sudah bisa berenang. Maka saya minta salah seorang di antara teman-teman itu untuk menceritakan rahasianya.

“Ah! Tidak ada sulitnya!” kata salah seorang anak besar itu. “Kamu tidak perlu berbuat apa-apa selain menelan medaka dan kamu akan mampu berenang seperti ikan di sungai ”. Medaka adalah suatu jenis ikan kecil, hitam yang tidak terlalu menarik, mirip berudu.

Honda, dengan pikirannya yang lugu, pergi ke sungai lalu menangkap seekor ikan medaka lalu ditelannya, seperti nasehat aneh temannya itu. Sebelumnya ia telah minum banyak air dengan tujuan agar ikan itu diperutnya tidak terlalu menderita sebelum mati. Suatu tindakan yang penuh perasaan!. Kini dengan keyakinan penuh kepercayaan, Honda terjun ke sungai…dan tenggelam! Untung, ia tidak terjun di tempat yang airnya dalam. Sesudah mencoba berkali-kali dan sesudah minum air entah berapa galon, ia terpaksa menghadapi kenyataan : keajaiban itu belum terjadi!. Apakah penasehatnya lupa memberikan suatu tahap yang penting? Mungkin alam memang tidak pernah menghendaki dia dapat berenang seperti anak-anak lain karena tubuhnya yang lemah dan tidak sempurna. Dengan perasaan kecewa, tetapi belum mau menyerah, ia mendatangi anak yang memberikan nasehat itu untuk mengetahui sebab kegagalannya.

“Mungkin kamu sudah terlalu besar,” kata anak itu. “Kembalilah ke sungai, dan telan ikan yang lebih besar. Kali ini pasti berhasl.”

Nasihat ini, selain disampaikan dengan nada penuh keyakinan, terdengar mengandung dasar ilmiah yang masuk akal. Honda pun kembali ke sungai, tetapi percobaan kedua ini pun tidak lebih berhasil. Walaupun begitu, Honda tidak menyerah, ia tidak mau ketinggalan dari anal-anak seusianya yang semua dapat berenang. Ia mulai berlari sepanjang sungai lalu menelan medakanya dan langsung meloncat ke air, lama-lama ia bisa berenang.

Beberapa tahun kemudian saya menyadari bahwa keajaiban pada waktu itu terletak pada kemauan kerasku dan pada percobaan-percobaan yang terus menerus saya lakukan. Dan dengan menelan sekian banyak air sungai saya mulai belajar cara berenang…percaya secara mendalam pada sesuatu memungkinkan kita semua menemukan suatu kekuatan batin yang sangat besar dan melampaui batas-batas kita.

Saya ceritakan anekdot yang panjang ini karena saya menganggapnya sebagi contoh yang baik tentang prinsip dasar keberhasilan : perlunya kepercayaan.

Cita-citaku ialah menjadi
Napoleon permesinan!

Seorang tokoh terkenal akan sangat berpengaruh sebagai pemberi inspirasi bagi Honda: Napoleon.

Ia mengetahui kisah Napoleon dari ayahnya, tetapi tentang detail-detail kehidupannya ia tidak tahu.

Saya bayangkan dia sebagai seorang lelaki yang ukuran fisik dan kekuatan tubuhnya sepadan dengan daya kekuatan dan ketenarannya. Ketika kelak saya tahu dari buku-buku sejarah bahwa ia berbadan pendek gemuk, saya kecewa. Saya sendiri tidak berbadan tinggi dan tentunya mempunyai keyakinan bahwa orang tidak boleh diukur dari tingginya, melainkan dari tindakannya dan jejak yang ditinggalkannya dalam sejarah umat manusia.

Saya juga mendengar bahwa Napoleon berasal dari latar belakang tidak terhormat dan bahwa keluarganya mungkin miskin…..saya berkesimpulan bahwa untuk mencapai sukses seseorang tidak perlu dilahirkan dari keluarga kaya atau terhormat. Banyak sifat lain yang membuat orang sukses : keberanian, kegigihan dan…ambisi.

Untuk meningkatkan kekaguman anaknya dan memprogram dia secara positif, Honda senior berkata “ kalau kamu besar nanti, kamu harus menjadi terkenal dan kuat… seperti Napoleon.” Dalam waktu tidak terlalu lama Honda sudah menemukan hal-hal yang mengandung persamaan antara dirinya dengan Napoleon. Seperti dia, jenderal itu pendek, berasal dari keluarga miskin, dilahirkan dari sebuah pulau, dan berhasil menaklukkan sebuah dunia.

Yang paling menarik pada orang ini adalah pelajaran moral atau filsafat yang membimbing kecenderungan-kecenderungannya yang akan datang : seorang mahasiswa muda yang miskin dapat bersikap meremehkan raja-raja, meneriakkan revolusi, dan menguasai seluruh dunia Barat, dan pada suatu hari, saya pun akan menjadi seorang Napoleon, si pendek dan terkenal…

Napoleon, Napoleon pujaanku, idola masa kanak-kanakku karena kami sama-sama harus berpegang terus pada impian gila.

Sebagai seorang bukan intelek, Honda membatasi bacaannya pada sebuah majalah teknik, the world of wheels. Pada suatu hari, selagi membaca-baca halaman majalah itu, ia melihat iklan lowongan kerja sebagai magang pegawai garasi pada Hart Shokai Company di Tokyo. Ia melamar. Beberapa hari kemudian lamarannya mendapat jawaban positif. Ayah dengan menggurutu melepas dia untuk menghantar ke Tokyo walaupun belum lulus sekolah. Ia baru berumur 15 tahun.

Pekerjaan yang harus dijalaninya ternyata tidak sesuai dengan harapan Honda yang penuh ambisi. Ia bukannya dijadikan magang di garasi, melainkan ditugaskan menjadi pengasuh anak bungsu bosnya. Walaupun kemauannya sangat keras dan maksud perusahaan juga baik, ia terlalu muda untuk diserahi tugas mereparasi sendiri sebuah motor.

Betapa mengecilkan hati! Saya sudah begitu dekat dengan tujuan, tetapi tak dapat mencapainya. Bagaimanapun juga pengalaman ini memperkuat tekad saya. Saya tidak akan bertindak bodoh dengan meninggalkan anak bos itu lalu pulang tanpa hasil dan menghancurkan kesempatanku untuk menjadi ahli mesin. Kata orang, setiap orang mempunyai sekelumit otak Tuhan. Saya percaya sekelumit inilah yang membuat saya mau bersabar dan tetap tinggal di Tokyo, untuk menunggu waktu, dan menangkap kesempatan berikut yang muncul sewaktu-waktu.

Namun Honda memetik manfaat dari pengalaman ini. Sementara mengasuh anak bos yang dipegangnya ke mana-mana, ia bebas berkeliaran ke setiap sudut bengkel reparasi dan mengamati dengan cermat segala pekerjaan yang sedang ditangani orang. Dengan demikian ia dapat mempunyai sentuhan rasa ahli mesin yang bersifat umum, suatu hal yang tidak mungkin terjadi kalau ia khususkan pada suatu pekerjaan tertentu.

Bisnis sedang mekar, maka Saka Kibara, bosnya, akhirnya berpendapat bahwa mungkin sudah waktunya memberikan kesempatan kepada anak muda ini. Hari ketika pertama kali Honda menerima celana kerja dirasakan sebagai hari besar. Akhirnya ia dapat mulai bergerak di dunia permesinan yang mempesonakan. Si magang muda itu segera memperlihatkan bahwa ia akan menjadi ahli mesin yang baik. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun lamanya ia mempelajari bidang pekerjaan itu. Ketika umurnya mencapai 20 tahun, ia dipanggil bosnya ke kantor. Ia ditanya apakah ia mau pulang ke rumahnya di desa. Mula-mula Honda berpikir bahwa ia secara halus disuruh keluar. Tetapi ternyata tidak. Bosnya yang melihat suatu karier yang baik pada anak muda itu, mengusulkan untuk membuka suatu cabang di Hamamatsu. Ia melihat kota itu memberikan harapan baik untuk mengeruk uang. Tidak perlu dikatakan, Honda secara bersemangat menerima tawaran penuh tantangan ini, terutama karena ia akan dapat bertemu lagi dengan keluarganya yang sudah sekian tahun ditinggalkannya.

Akhirnya saya menjadi seorang dewasa yang mandiri, tuan dari tanganku sendiri, dari kaki-kakiku, otakku, dan nasib keberuntungan , jadwal kerja dan segala resiko yang muncul.

Rasa bebas yang sangat hebat ini hanya dialami oleh orang-orang yang memulai bisnisnya sendiri. penelitian kami telah memperlihatkan bahwa perasaan ini merupakan kompensasi atas segala kecemasan yang dirasakan dalam memutuskan hubungan dengan apa yang dijalani sebelumnya. Tetapi, rupanya diperlukan adanya suatu watak khusus untuk “terjun ke dunia baru” tanpa menjadi lumpuh karena ketidakpastian material pada awalnya.

Selama bertahun-tahun selagi Honda berada di luar desanya, banyak hal telah berubah di tempat kelahirannya. Antara lain dua atau tiga bengkel telah dibuka di sana. Pada mulanya Honda berpikir bahwa bengkel yang akan dibukanya adalah satu-satunya bengkel di kota itu. Kini ia harus mencari cara terbaik untuk menghadapi para pesaing dan untuk berprestasi lebih baik daripada mereka. Ia segera menemukan dua cara : pertama, ia harus bersedia melakukan pekerjaan-pekerjaan reparasi yang ditolak oleh bengkel-bengkel lain.; kedua, ia harus bekerja secepat mungkin sehingga si pemilik mobil tidak terlalu lama tidak bermobil. Dengan cepat Honda mendapat cap yang baik dari para klien. Tentu saja, ia kadang-kadang terpaksa bekerja semalam suntuk agar besok pagi mobil yang direparasinya sudah dapat diambil kembali. Ia bersedia melakukan pengorbanan itu. Otak jeniusnya yang kreatif nampak jelas. Pada zaman itu, jari-jari roda mobil terbuat dari kayu dan tidak terlalu baik dalam meredam guncangan. Honda mempunyai gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Ruji-ruji logamnya segera laku keras dan diekspor ke seluruh dunia.

Penemuan ini telah membuka mataku terhadap kesabaran yang diperlukan untuk bekerja di industri kami. Sebuah bengkel atau toko dijalankan seperti kereta api. Kereta berhenti di setiap desa dan mengangkut orang-orang setempat, tetapi tidak mampu menempuh jarak yang lebih besar. Tentu saja, orang dapat berbahagia dengan kereta yang berjalan dengan kecepatan sekedarnya ini, tetapi saya tidak, saya mencita-citakan untuk menjalankan kereta yang lebih besar dan lebih cepat..

Sedikit demi sedikit tumbuh gagasan untuk melepaskan diri dari bosnya dan mendirikan usahanya sendiri. apa spesialisasi yang akan dipilihnya? Ring piston kelihatannya mempunyai kemungkinan yang baik. Tetapi teman-teman usahanya, yang berjiwa lebih konservatif daripada dia, tidak begitu bersemangat seperti dia. Tetapi Honda akhirnya berhasil meyakinkan mereka. Ia menanamkan seluruh uang simpanannya dalam “Tokai Seiki”, sebuah pabrik penghasil ring piston. Tes pertamanya tidak sangat berhasil. Ring buatannya kurang lentur dan tidak laku dijual. Honda ingat akan reaksi teman-temannya mengenai kegagalan tersebut.

Teman-temanku berdatangan untuk mengatakan bahwa semestinya aku tidak keluar dari bengkelku, melainkan memperluasnya dan menumbuhkan bisnis itu terus, bukannya melalui suatu usaha yang tidak karuan jadinya. Aku telah menanamkan semua uang simpananku dalam rencana ini. Aku merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang sudah kuseret dalam urusan ini dan kukatakan kepada diriku sendiri bahwa aku telah berumur 30 tahun dan mungkin telah menghancurkn semua kesempatanku untuk maju dengan menjual bengkelku.

Karena tekanan kegagalan dan tanggung jawab, Honda jatuh sakit cukup serius. Tetapi, setelah pulih kembali dalam jangka waktu dua bulan, ia kembali memimpin usahanya, dengan tekad mengatasi segala masalah.

Rupanya pabrik pengecoran setempat tidak mau mengungkapkan rahasia mereka. Honda harus bekerja sendiri. Siang dan malam ia mencari pemecahan, tetapi belum juga melihat titik terang. Piston yang dibuatnya tetap saja terlalu keras. Berapa pun teguhnya tekad Honda, ia harus menghadapi kenyataan : ia tidak mempunyai pengetahuan teknis yang dibutuhkan untuk maju.

Banyak orang lain akan mundur bila menghadapi kenyataan seperti itu. Honda tidak. Dengan mengesampingkan rasa harga diri, ia bersedia kembali masuk sekolah. Ia mendaftar masuk universitas guna melengkapi latihan permesinannya. Setiap pagi ia pergi ke universitas, dan begitu kuliah selesai ia bergegas ke bengkelnya untuk mempraktekkan pengetahuan yang baru diterimanya. Ia dua tahun lamanya bertekun di universitas itu, dan akhirnya dikeluarkan. Masalahnya, Honda si keras kepala itu tidak mau mengikuti kuliah-kuliah selain yang berkaitan dengan pembuatan suku cadang.

Saya merasa bagaikan seorang sekarat karena kelaparan yang bukannya diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya.

Honda mencoba menerangkan kepada rektor bahwa ia ikut kuliah bukan untuk mencari ijazah , melainkan untuk mencari pengetahuan. Penjelasan itu justru dianggap sebagai penghinaan.

Honda kembali ke pabriknya dengan fakta baru. Ia telah menang, Tokai Seiki lambat laun memperkuat posisi pasarnya dan mulai dikenal sebagai penghasil barang yang baik. Perang Dunia II menghentikan semua ini dengan tiba-tiba. Pada bulan Juni 1945, bom dari pesawat-pesawat terbang Amerika menghancurkan pabrik-pabriknya.

Sesudah perang selesai, Honda memutuskan untuk istirahat selama setahun guna mengembangkan beberapa penemuan dan untuk berpikir. Dengan optimisnya yang tetap tinggi walaupun seluruh negeri dilanda suasana suram, ia membangun laboratorium penelitian teknis dengan tujuan mengamankan kemandiriannya. Ada suatu ide di dalam pikirannya. Situasi ekonomi negeri itu tampak sangat menyedihkan bagi kebanyakan industrialis. Honda mempunyai diagnosis yang sebaliknya. Angkutan umum sama sekali hancur akibat pemboman besar-besaran selam perang. Yang ada hanya beberapa kereta api dan bus. Mobil dan bahan bakarnya sama-sama langka. Orang Jepang kembali ke zaman sepeda, dan inilah alat angkutan paling populer waktu itu. Ide Honda sederhana sekali, tetapi cemerlang, dan lebih lagi, sesuai dengan kebutuhan orang banyak waktu itu. Honda memasang motor pada sepeda, dan menghasilkan sepeda motor murah.

Mula-mula, Honda hanya mengubah motor-motor yang dibelinya dengan harga murah dari angkatan perang. Sepeda motor buatannya segera menjadi barang kegunaan orang banyak. Karena mungkin banyaknya permintaan sedang persediaan dari angkatan perang sudah habis, Honda terpaksa membuat sendiri motornya : yakni Honda Model A. Ciptaannya mulai disebut “sepeda Motor”. Sukses sepeda motor ini sebagian karena Honda secara pintar telah menemukan cara menghemat bahan bakar dengan mencampurkan damar pada bahan bakar dan dengan menciptakan karburator yang cocok.

Terpacu oleh kelahiran kembali bisnisnya, Honda membuka suatu pabrik perakitan sepeda motor pada bulan Februari 1948. tetapi ia tidak bisa berhenti di sana saja, ia harus berbuat lebih baik. Ia harus membuat sepeda motor yang sebenarnya. Rencananya terdengar gila-gilaan. Sejak kekalahan Jepang, tidak ada satu pun sepeda motor yang sebenarnya. Tetapi pada tanggal 24 September 1948 Honda mendirikan Honda Motor Company. Percobaan pertamanya agak mengecewakan, sebab bodi sepedanya tidak cukup kuat untuk menyangga beban motor. Walaupun begitu, prototipe pertama lahir pada bulan Agustus 1949. ia menamakan “Dream” (impian). Motor ini hanya berkapasitas 98 cc dan 3 tanaga kuda.

Walaupun sukses, Honda menghadapi masalah finansial berat. Pasaran tidak stabil dan terbatas. Banyak distributor mengalami kebangkrutan. Honda pun mengalami kerugian berulang-ulang sehingga ia pun menghadapi bahaya bangkrut. Ia bahkan memberikan suatu pengakuan yang mengejukan bahwa ia pada dasarnya seorang investor bukan administrator. Ia cukup berpandangan luas ke depan dengan mengakui kelemahannya. Ia bahkan berkata: “Kalau aku harus mengelola sendiri perusahaanku, dalam waktu singkat aku akan bangkrut.”

Salah seorang temannya memperkenalkan Honda dengan Takeo Fujisawa, seorang administrator yang baik. Dialah yang akan menyelamatkan usaha Honda yang sedang mulai mekar itu. Penggabungan dua orang ini, yang satu pemimpi dan yang lain pengelola, merupakan suatu contoh yang baik tentang prinsip yang menyatakan bahwa tak seorang pun mencapai sukses seorang diri. Mengenai faktor manusiawi, Honda berkata :

Ketika aku merenungkan jalan hidupku sebentar, aku menyadari pentingnya kontak. Kontak mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada semua penemuan mesin karena bertemu dengan orang memungkinkan kita memperluas pandangan tentang segala sesuatu dan mendapatkan ribuan pengalaman yang tak mungkin kita peroleh dengan cara lain.

Kegagalan “Dream” tidak mematahkan semangat Honda. Ia mengembangkan suatu model baru yang revolusioner dengan kelebihan lebih cepat dan lebih tidak membisingkan daripada model terdahulu. Hampir sepuluh tahun kemudian, model ini akan ditiru oleh prodesen-produsen lain di seluruh dunia. Honda berkata :

Pada dasarnya saya tidak pernah menyesalkan reaksi pertama. Mereka memaksa saya untuk mengerahkan bakat saya sampai batas tertinggi dan menciptakan suatu motor yang jauh mendahului zamannya.

Inilah kesaksian hidup bahwa setiap kegagalan, betapa pun gawatnya, dapat bermanfaat bagi mereka yang tidak mau hancur karena dikecewakan.

Sepeda motor Honda mencapai sukses yang belum pernah dicapai sebelumnya. Segera 900 buah tiap bulan keluar dari jalur perakitan. Honda menghadapi kebutuhan memperluas produksinya memoderenisasi pabriknya dan bahkan mendirikan pabrik-pabrik baru. Untuk melakukan ini semua diperlukan modal, dan tidak sedikit. Bagi seseorang di luar kalangan perbankan, seseorang yang sepenuhnya berdiri atas usahanya sendiri, tidaklah mudah meyakinkan pihak bank untuk meminjami dia uang yang diperlukan. Tetapi Honda adalah seorang yang pandai membujuk, dan bank setuju memberi dia pinjaman. Ia membuat pabriknya lebih modern dan mulai menghasilkan 25.000 sepeda motor setiap bulan. Distributornya berjumlah 13.000 di segala penjuru. Lima pabrik miliknya membuat Honda menjadi seorang jutawan.

Kini Honda menghadapi tantangan lain : ia harus membuktikan kepada dunia bahwa Jepang mampu membuat sepeda motor yang tak kalah cepat dan terandalkan dengan hasil buatan Eropa. “Saya mulai dengan keyakinan sederhana, bahwa kalau orang lain mampu membuat sepeda motor yang cepat, kami pun mampu.” katanya.

Honda pergi ke Eropa dan membeli sepeda motor terbaik yang ada di pasaran. Sepeda motor itu dibawanya pulang ke Jepang, dipreteli, dan dipelajarinya dengan teliti. Ia kemudian menciptakan sepeda motor balapnya sendiri. Sepeda motor itu diikutkan dalam perlombaan dan ternyata sangat memuaskan. Dalam beberapa tahun saja, reputasi Honda menyebar ke mana-mana dan berbagai modelnya, dari model skuter ke pembalap, membanjiri pasar dunia. Dari tahun ke tahun, cabang-cabang Honda bermunculan di negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Swiss, Belgia, Australia, Kanada, Brasil, Meksiko, Peru dan Thailand.

Kini waktunya telah tiba untuk mulai merealisasikan salah satu impianku yang lain. Mencoba menang dalam Formula Satu adalah seperti mencoba hal yang mustahil. Tetapi saya sudah bertekad bulat untuk mencobanya. Saya akan menghabiskan waktu, tetapi tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk menang, cepat atau lambat.

Apa yang telah dicapainya dengan sukses pada sepeda motor, kini akan dilakukan pada mobil. Pada tahun 1962, Honda Motor Company secara resmi menyatakan diri memasuki dunia pembuatan mobil. Tugas honda tidaklah mudah. Keputusannya itu berarti bahwa ia akan menghadapi saingan dari Amerika Serikat, yang merajai pasar dunia.

Sekali lagi, Honda memilih untuk menggantungkan diri pada persaingan untuk menembus pasar ini. Demikianlah ia memasukkan mobilnya dalam perlombaan Formula Satu yang bergengsi. Walaupun pada mulanya menghadapi banyak masalah, impian Honda akhirnya terwujud pada tanggal 24 Oktober 1965. Salah satu mobilnya menang dalam suatu kompetisi penting, dengan mengalahkan mobil-mobil terkenal seperti Ferrari dan Lotus, hasil pabrik-pabrik yang telah berpengalaman bertahun-tahun dalam perlombaan dan riset.

Karena dorongan kemenangan-kemenangan ini, Honda memutuskan untuk membuat mobil untuk kepentingan umum pada tahun 1967 dan, dorongan tujuan menghasilkan mobil hemat bahan bakar, ia memutuskan untuk membuat mobil-mobil kecil saja. Ternyata keputusan Honda tepat sekali. Krisis minyak tahun 1970-an, yang pada waktu itu tidak diduga akan terjadi, akan membuat mobil-mobil yang digemari orang di antara mobil-mobil hasil produksi lainnya, yang masih memusatkan usahanya pada pembuatan mobil besar dan kurang ekonomis. Karena dampak krisis ini, para produsen mobil ini terpaksa mendesain ulang mobil mereka untuk mengurangi pemakaian bahan bakar. Industri Amerika membutuhkan waktu 10 tahun untuk merebut kembali posisinya di pasar dunia.

Sementara para pesaing belum bulat pada keputusan mereka, Honda membanjiri pasar-pasar dengan mobil kecil yang dicintai konsumen, Honda Civic. Lebih dari itu, Honda adalah pabrik pertama yang memasang alat anti polusi pada mobilnya. Demikianlah, ketika banyak pemerintah mulai memberlakukan undang-undang anti polusi, Honda Motor Company sudah siap memenuhi standar baru, sementara para pesaing masih harus bergelut dlam usaha menyesuaikan diri dengan aturan baru. Faktor lain yang menunjang sukses Honda adalah penggunaan alat-alat robot dalam pabrik.

Kisah keberhasilan Honda ini merupakan contoh yang baik sekali untuk menerangkan prinsip bahwa sukses itu mungkin saja dicapai seseorang yang mulai dengan modal seadanya, bahkan dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Selama masa-masa sesudah perang, Jepang adalah negeri yang hancur. Gaji rata-rata adalah $600 setahun. Apa yang disebut “keajaiban Jepang” terjadi berkat orang-orang seperti Honda. Ingatlah contohnya bila anda mengeluh bahwa situasi ekonomi menghambat anda untuk menjadi kaya.

Dalam perjalanan tahun, Anda menyempatkan diri mencatat prinsip-prinsip utama keberhasilannya, berikut resep Honda yang diringkas dalam lima butir :

  • Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
  • Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan-gagasan baru dan khususkan waktu untuk memperbaiki produksi.
  • Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan membuat kondisi kerja anda senyaman mungkin.

Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja keras.

[adityamind]

Jun
15

4 Kiat stategi memenangi Persaingan usaha

Author admin    Category IT News, Motivation, Tips & Trik     Tags

1. KEUNIKAN

Unik dalam menghasilkan Produk maupun unik dalam Berpromosi

2. MEMBERIKAN SPECIAL OFFER

Memberikan diskon / hadiah

3. MEMBERIKAN GARANSI

memberikan jaminan bahwa jasa yg kita tawarkan akan menghasilkan feedback yg lebih baik dan memuaskan buat konsumen

4. GOOD NETWORKING

kerjasama dng berbagai pihak secara jujur dan berkesinambungan

May
10

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination Killers

Author admin    Category IT News, Motivation     Tags

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersYou have enough enemies when it comes to getting things done—having your own brain plotting against you is just unfair. Hone up on a few strategies, thought exercises, and habits that get you past mental roadblocks and back to productivity.


10. Pick Good Sounds

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersMegadeth doesn’t get everyone motivated, and classical is many folks’ idea of nap music. Music is a highly subjective thing, but that doesn’t mean lots of smart folks have spent time thinking about what kind of music works best for getting things done. Productivity guru David Allen prefers Vivaldi and other Baroque-period pieces that hover around 60 beats per minute. Founding Editor Gina and the editors at our gaming-crazed cousins Kotaku dig the ambience of Music for Airports. And while we’ve previously tried to tally up the best sounds for getting work done, the ultimate answer may be “Try something new. Not too loud, not too fast or slow.” And, for folks like your editor, stuff you don’t know the lyrics to.Photo by Ruud Hein.

9. Use Minor Distractions to Fend Off Big Distractions

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersWere you the kid who listened to mom’s advice about sweets before dinner, or were you the kid who tried to reshape the frosting so it looked like nothing was missing? If you were the latter, or it feels like that’s still the case, see how kids resisted marshmallows in a famous test. The main connection between all the good little kids who could hold out for a better reward was that they distracted themselves when temptation came up. Distraction, of course, is what you’re trying to stop doing, so we’re talking about avoiding one kind of distraction (wandering into email, getting coffee, checking a favorite web site) by using a more benign form (checking a project status, tidy up your desk a bit, stand up and stretch). If you acknowledge your temptations to get away from your work, that’s half the battle of stopping them. (Original post)

8. Set a Timer and Crank Until It Beeps

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersWhich would you rather do: spend weeks on a big, multi-faceted project, or work 10 minutes on fixing typos and errors and then get a two-minute break? It’s surprising how easy it is to force yourself into working in a short dash, with a definite end in sight. It’s a technique beloved by 43 Foldersprolific personal finance bloggers,psychologists, and many others get to work when work seems overwhelming. (Original posts: 43fGRSPsychology Today).

7. Move and Breathe Like You’re Excited

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersFast breathing, cold sweats, a pounding heart—when your mind is trying to stay cool before public speaking or other big events, your body knows how you really feel. Use that mind-body link-up to your advantage when you’re less than excited about a meeting, a task, or other obligations.Psychology Today suggests sports-style psych-ups, like moving around, talking to yourself with high-energy words, and breathing like you’re about to step into the ring. Your ability to do this stuff discretely will vary, but grabbing some quick private time is probably a better use of time than praying for an electrical outage, anyways. Photo by Andrew_Nielsen. (Original post)

6. Make Your To-Do List Doable

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersThe demands that our jobs put on us is usually more than enough. The way many of us over-stuff and micro-manage our to-do lists makes it worse. Gina gave us the big picture ofmaking a doable to-do list, but her advice on saving your workday contains a fast-food take-away: cross one item that’s not worth doing off your list, right now. Whether it’s unimportant busywork, old ideas that don’t work, or something you can delegate to better hands, your list will speak more clearly to you and you’ll feel a lot better. Photo by ebby.

5. Don’t Check Email for the First Hour of Work

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersWe know, we know—not everybody can technically do this. But, honestly, maybe you can, by shifting your schedule an hour ahead or training coworkers on when to expect responses. Organization writer Julie Morgenstern titled an entire book on this idea, the basic premise of which is that that first hour, the one where nobody can pull you in different directions, is when you can crank on an important task, the first thing to get done today, the thing you know everyone’s going to pull you away from later on. Try it out for a day or two—don’t let what happened overnight in your inbox dictate your entire day. Photo by trekkyandy.

4. Create a Fake Constraint

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersIt’s something of a companion piece to the “dash,” or perhaps a 300-level class for graduates of Fooling Yourself Into Producing 101. But putting creative constraints on your work or personal projects—500 words, 140 characters, 24 hours, 10 people, three colors—makes you stretch your brain a bit further, and get more creative, than just plodding and plodding until you feel “done.” I found particular inspiration in how Beck gives himself and his friends just 24 hours to record entire cover albums. Entrepreneur and blogger Guy Kawasaki stands by the success of presentations that use 30-point fonts, 20 minutes, and just 10 slides (the 10/20/30 rule) for less soul-deadening effect. Whatever fence you set up, you’ll likely feel paradoxically more free inside of it. (Original post: 10/20/30).

3. Move Quickly on New Skills and Great Ideas

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination Killers“If only I knew” is a dangerous tool to give your own mind. It’s easy to convince yourself that you can’t act on your ideas until you’ve learned everything about them, or researched every possible alternative, or read the entire programming book before writing your “Hello World” app. Video blogger Ze Frank calls these stashed-away thoughts brain crack, because it’s addictive to think you’ve always got an idea in the can that just needs one more thing. Adam built his first webappfrom what was basically scratch, and was all the happier for not holding out. Programmer Matt Nowack described what’s called for best—”hustle.” (Original posts: brain crackhustle).

2. Have a Status Board (of Some Kind)

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersJust look at how the team at Panic software keeps track of their big-picture goals, small successes, and organizational progress. It’s neat, and it’s made their team more productive, but you’ll never get one. You can, however, analyze and panic-button your life with personal graphing toolsfitness monitorsgoal-oriented webapps, or by taking inspiration (and caution) from the subjects of Gary Wolf’s NYT Magazine piece on The Data-Driven Life. Of course, people have been keeping personal status trackers for hundreds of years—they just called them journals.

1. Understand and Overcome Your Fear of Failure

Top 10 Motivation Boosters and Procrastination KillersThe part of your brain that was forged in caveman times doesn’t want you to risk doing something great on your next project, to jump to a new career, to start writing on the side. It wants you to stay fed, remain quiet, and simply survive. Author Seth Godin and productivity writer Merlin Mann dug into the facets of this tendency—the “lizard brain,” the “puppy brain,” and beyond—in an interview conversation well worth listening to. Even if you take the step toward actually working on the project, your brain can start getting ahead on excuses for your failure, and they’ll affect the outcome all along the way. You can’t entirely stop your mind from wanting you to stay safe, but you can know what it’s trying to do and strive to work past it.

<lifehacker>

Apr
30

Susi Lulusan SMP dan si Pengepul Ikan Itu Sudah Menjadi Juragan Pesawat

Author admin    Category IT News, Motivation     Tags

SUKSES – Susi Pudjiastuti di depan pesawat New Piaggio Avanti, di bandara pribadinya di kawasan Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Foto: Agus Wirawan/Jawa Pos
Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 pesawat dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.

Laporan AGUS WIRAWAN, Pangandaran

ANGIN laut bertiup kencang saat pesawat Cessna yang membawa Jawa Pos mendekati Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Setelah berputar sekali di atas perairan biru, pesawat berkapasitas 10 penumpang itu lantas menukik, kemudian mendarat di bibir pantai yang indah.

Konstruksi landasan yang biasa dipakai take-off dan landing itu terbuat dari campuran pasir-batu yang dipadatkan. “Ini bandara private (milik pribadi). Panjangnya satu kilometer,” ujar wanita paruh baya yang menyambut Jawa Pos dengan ramah.

Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Rambutnya ikal kemerahan, suaranya serak-serak, namun pembawaannya supel.

Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.

“Saya suka belajar bahasa apa aja. Yang penting bisa buat marah dan memerintah. Sebab, dengan itu, saya bisa bekerja,” ujarnya sambil lantas tertawa.

Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan.

“Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.

Susi tak mematok harga sewa pesawat secara khusus. Sebab, hal itu bergantung pelayanan yang diminta pihak penyewa. Biaya sewanya pun bermacam-macam, tapi rata-rata antara USD 400 sampai USD 500 per jam.

“Kadang ada yang mau USD 600 sampai USD 700 per jam. Perusahaan minyak mau bayar USD 1.000 karena beda-beda level servis yang dituntut. Untuk keperluan terbang, semua piranti disediakan Susi Air. Pesawat, pilot, maupun bahan bakar. Jadi, itu harga nett mereka tinggal bayar,” tegasnya.

Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.

“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. “Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.

Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). “Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.

Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. “Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.

Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam.

Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan. “Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya.

Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi. “Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.

Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan. “Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.

Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.

“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila. ‘Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar,’ katanya,” ujar Susi.

Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. “Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.

Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh. “Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.

Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. “Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.

Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. “Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.

Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. “Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.

Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. “Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme

<jpnn>

Apr
30

Can Entrepreneurs Go It Alone Without Co-Founders?

Author admin    Category IT News, Motivation     Tags

walkalone_apr10.jpg

We’ve been talking a lot about founders and co-founders here on ReadWriteStart over the last week. We discussed the advantages ofhaving a non-technical co-founder on your team, and noted ways these types of partners can best fit in with the code monkeys. But today, Geoff Lewis, founder of Topguest, has written a piece on Business Insiderabout how entrepreneurs may not need a co-founder to get their startup off the ground and moving in the right direction.

Many have touted the two co-founder system as the best way to handle a startup, but according to Lewis, times are changing and co-founders may be over-valued. Lewis says that just as the simplification of online tools has made starting a company much more affordable, so have the skills required to handle both the building and selling of a company.

“In the 90s, you needed $5 Million, a team of engineers, and a year just to get a consumer Internet site launched. Today, most software is disposable, the cloud is omnipresent, and meaningful products can be built and shipped in a matter of weeks,” writes Lewis. “Today, it is more possible than ever before for one person to effectively lead both building and selling during a consumer Internet startup’s early growth phase.”

Lewis also argues that it is highly unlikely that entrepreneurs will find their emotional match when seeking a co-founder, but I think that is exactly why having a co-founder is a good position. If you want your co-founder to be a “yes man” clone of yourself, then yes, you might as well go it alone, but the point of having a co-founder is to have a diversity of opinions and perspectives. Sure, both founders should be passionate about their product, but they don’t have to be a perfect match to make it work.

“The odds of finding a co-founder who’s a true partner – in every sense of the word – are about the same as your odds of finding that perfect spouse,” adds Lewis. “Did I mention 50% of marriages end in divorce?”

Actually, I would think the same ideas apply to relationships. I wouldn’t want to marry someone who was exactly like me; I’d rather it be someone whose qualities are complementary, yet different from mine. Otherwise that marriage would be boring. Personally, just as the wisdom of the crowd can unearth the best answer, I believe multiple founders will have a better chance at making the best decisions for their company.

I do agree, however, with Lewis’ notion that, “not having a co-founder is no longer a valid excuse for not starting.” If you are an entrepreneur with an idea for a company but no one to found it with, go start it yourself. Getting a business set up with the basics is certainly something one person can handle, but eventually, a partner at the top is going to benefit the company more than remaining a monarchy.

<readwriteweb>

Follow us on Twitter! Follow us on Twitter!
[Powered by Android]

Blogroll

Google Search :)

Calendar

April 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Recent Posts